Slide # 1

Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan 2019

Foto Bersama Keluarga Besar Prodi Pendidikan Kimia Bersama Mahasiswa Baru dan Panitia PBAK 2019 Read More

Slide # 2

Family Gathering Chemistry16

Kebersamaan Keluarga Prodi Pendidikan Kimia dengan Leting 2016 Read More

Slide # 3

Pelantikan UKM ALAC Prodi Pendidikan Kimia

Peresmian UKM Sanggar Seni Kimia (SSK) dan Chemistri Language Club (CLC) Read More

Slide # 4

Pelantikan HMP Pendidikan Kimia 2018-2019

Pembukaan dan Penutupan Pelantikan DImeriahkan oleh Sanggar Seni Kimia Read More

Slide # 5

KOMINFO SQUAD

Penanggungjawab Semua Media Pendidikan Kimia Read More

Tampilkan postingan dengan label Kimia Analitik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia Analitik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018


Gambar 1.1 diagram metode pemisahan kromatografi kolom
         Kromatografi kolom merupakan salah satu metode pemisahan konvensional yang berserah karena dari sini lah bermula metode kromatografi. Gambar 1.1 mmemperlihatkan diagram metode pemisahan kromatografi kolom. Kolom gelas dengan kran pada salah satu ujungnya diisi oleh fasa diam berupa silica atau alumina. Ukuran diameter partikel fase diam berkisar 100 micometer. Campuran yang akan dipisahkan dituangkan pada bagian atas kolom yang berisi fasa diam. Begitu pula fasa gerak berupa pelarut organik seperti heksan atau ester dialirkan dari bagian atas kolom. Komponen-komponen  yang telah terpisah dari campurannya bergerak bergerak terbawa fasa gerak ke bawah kolom. Jumlah komponen penyusun campuran dapat terlihat sebagai cincin-cincin berwarna sepanjang kolom gelas. Kolom gelas satu persatu dan dapat ditampung pada tempat yang berbeda.

Selasa, 02 Januari 2018

 IDENTIFIKASI ANTALGIN DALAM JAMU PEGAL LINU SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

Oleh :

Muhammad Aziz Al-Ghifary & Muliono Saragih


I.  JUDUL PERCOBAAN         : IDENTIFIKASI ANTALGIN DALAM  JAMU PEGAL LINU       SECARA   KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
II. TANGGAL PERCOBAAN : 21 November 2016

1.      LATAR BELAKANG

      1.1  Definisi Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
     Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah suatu teknik pemisahan yang sederhana yang sering dan paling banyak digunakan, metode ini menggunakan  empeng kaca atau lembaran plastik yang ditutupi penyerap atau lapisan tipis dan kering. Untuk menotolkan karutan cuplikan pada kempeng kaca, pada dasarnya menggunakan mikro pipet atau pipa kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengelusi di dalam wadah yang tertutup.KLT merupakan contoh dari kromatografi adsorpsi.Fase diam berupa padatan dan fase geraknya dapat berupa cairan dan gas.  Zat terlarut yang diadsorpsi oleh permukaan partikel padat. (Soebagio, 2002:145)

Rabu, 25 Oktober 2017

PERCOBAAN 4
JUDUL PRAKTIKUM          : KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS
TANGGAL PERCOBAAN  : 16 Mei 2016
1.        LATAR BELAKANG
1.1    Definisi Kromatografi
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran yang berdasarkan kecepatan perambatan komponen dalam medium tertentu. Uraian mengenai kromatografi pertama kali dijelaskan oleh Michael Tswett, seorang ahli biotani Rusia yang bekerja di Universitas Warsawa. Pada saat itu, Michael Tswett melakukan pemisahan klorofil dari pigmen-pigmen lain dari ekstrak tanaman menggunakan kromatografi kolom yang berisi dengan kalsium karbonat. Pada kromatografi, komponen- komponen yang akan dipisahkan berada diantara dua fase yaitu fase diam ( stationary ) dan fase bergerak ( mobile ). Fase diam adalah fase yang akan menahan komponen campuran sedangkan fase gerak adalah fase yang akan melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal atau tidak bergerak sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih cepat (Sudarmadji, 2007).

1.2    Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis merupakan salah satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin di deteksi dengan memisahkan komponen-komponen sampel berdasarkan perbedaan kepolaran. Kromatografi lapis tipis adalah metode pemisahan fisika-kimia dengan fase gerak (larutan pengembang yang cocok), dan fase diam (bahan berbutir) yang diletakkan pada penyangga berupa plat gelas atau lapisan yang cocok. Pemisahan terjadi selama perambatan kapiler (pengembangan) lalu hasil pengembangan di deteksi. Zat yang memiliki kepolaran yang sama dengan fase diam akan cenderung tertahan dan nilai Rf-nya paling kecil. Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah gerakan pelarut pengembang.
Pemisahan komponen suatu senyawa yang dipisahkan dengan kromatografi lapis tipis tergantung pada jenis pelarut, zat penyerap dengan sifat daya serap masing-masing komponen. Komponen yang terlarut akan terbawa oleh fase diam (penyerap) dengan membandingkannya dengan standar yang sangat memakan waktu dan harus dilakukan terpisah pada kondisi eluen yang sama. Dalam hal ini untuk mendapatkan resolusi yang baik, penting untuk memilih dua campuran pelarut yang berbeda, meskipun dengan kekuatan pelarut yang sama (Gandjar, 2008).
Hendayana, (2010) menyatakan bahwa pada KLT, zat penyerap merupakan lapisan tipis serbuk halus yang dilapiskan pada lempeng kaca, plastik atau logam secara merata, umumnya digunakan lempeng kaca. Lempeng yang umumnya dapat dianggap sebagai kolom kromatografi terbuka dan pemisahan yang tercapai dapat didasarkan pada adsorbsi, partisi atau kombinasi kedua efek, tergantung dari jenis zat penyangga, cara pembuatan dan jenis pelarut yang digunakan. KLT dengan lapis tipis penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar. Perkiraan identifikasi diperoleh dengan pengamatan bercak dengan harga Rf yang identik dan ukuran hampir sama, dengan menotolkan zat uji dan baku pembanding pada lempeng yang sama. Perbandingan visual ukuran bercak yang dapat digunakan untuk memperkirakan kadar secara semikuantitatif.
1.3  Penelitian Terdahulu Tentang Distilasi
Ada pun penelitian terdahulu tentang Studi Skrining Kimiawi Fraksi Non-Polar Rimpang Kunyit Curcuma Long A Dan Aktivitas Biologi Sebagai Radical Scavenger, menggunakan KLT .Diketahui bahwa kandungan kimia terpenting dari curcuma longa antara lain senyawa golongan kurkuminoid, sesquiterpen, ar-tumerone dan turunannya, yang terkandungdi dalam bagian-bagian tumbuhan tersebut.(Hiserodt,1996) Ekstraksi dengan pelarut n-heksana bertujuan untuk mengekstrak senyawa nonpolar yang terkandung di dalam rimpang kunyit. Proses ekstraksi ini, menghasilkan massa berbentuk minyak Jurnal llmu dan Teknologi Pangan, Vol. 2, No. 1, April 2004 121 berwarna kuning pekat sebanyak 13,8 gram (1,97%). Uji Kromatografi lapis Tipis (KLT) dilakukan dengan cara melarutkan sedikit minyak hasil ekstraksi ke dalam etil asetat, kemudian ditotolkan pada lempeng KLT dan dibiarkan mengering. Hasil kromotografi lapis tipis dengan fasa gerak n heksana dan etil asetat (4:1 v/v). dan diketahui rf nya adalah sebagai berikut
Rf1 =0,18,Rf2 = 0,24,Rf3= 0.33,Rf4= 0.45,Rf5 = 0,56,Rf6 = 0.69,Rf7 = 0,76,Rf8= 0.87
Penelitian tentang Standarisasi Parameter Non Spesifik Dan Perbandingan Kadar Kurkumin Ekstrak Etanol Danekstrak Terpurifikasi Rimpang Kunyit, Kunyit (Curcuma domestica Val.) merupakansalah satu tanamanyang mengandungsenyawa kurkumin denganberbagaiaktivitas. Pemanfaatan kurkumin dari rimpang kunyit yang banyak digunakan adalah dalam bentuk ekstrak etanol, namun masih terdapat zat ballast sehinggamenyebabkanrendahnyakadarkurkumin. Hal ini dapat diupayakan dengan standarisasi ekstrak etanol yang terpurifikasi.  Ekstrak etanol rimpang kunyit dibuat dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak etanol direndam dengan heksan hingga fase heksan terlihatj ernih dan diperoleh ekstrak terpurifikasi yaitu fase taklarut heksan. Kadar kurkumin ditetapkan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dengan fase diam silikage l60F dan fase gerak kloroform: etanol : asam asetat   glasial (94:5:1) dan analisis kuantitatif menggunakan densitometri dengan panjang gelombang maksimum 426nm.  Kadar air ekstrak  ditetapkan menggunakan metode destilasi toluen, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam ditetapkan menggunakan metode gravimetri. Hasil statistik dengan LSD menunjukkan perbedaan yang bermakna kadar kurkumin dan beberapa nilai parameter non spesifik pada ekstrak etanol dan ekstrak terpurifikasi. 
2.        TUJUAN
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk memperoleh kurkumin dari kunyit (Curcuma Longa L) menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT).
3.        TINJAUAN PUSTAKA
3.1    Kukumin (Curcuma Longa L)
Kurkumin adalah senyawa aktif yang ditemukan pada kunyit, berupa polifenol dengan rumus kimia C21H20O6. Kurkumin memiliki dua bentuk tautomer: keton dan enol. Struktur keton lebih dominan dalam bentuk padat, sedangkan struktur enol ditemukan dalam bentuk cairan. Kurkumin merupakan senyawa yang berinteraksi dengan asam borat menghasilkan senyawa berwarna merah yang disebut rososiania.
Kurkumin dikenal karena sifat antitumor dan antioksidan yang dimilikinya, selain itu banyak kegunaan medis seperti melindungi saraf, mengurangi risiko radang otak vasospasma dan mengembalikan homeostasis energi pada sistem otak yang terganggu akibat terluka atau trauma; menghambat dan mengurangi penumpukan plak amiloid-beta pada penderita alzheimer.
Kurkumin merupakan salah satu senyawa yang diisolasi dari tanaman Curcuma sp dan pemberi warna kuning pada tanaman kunyit (Curcuma longa L). Kurkumin banyak digunakan sebagai rempah-rempah dan pemberi warna pada makanan dan juga pemberi warna pada tekstil. Secara tradisional kurkumin juga digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti anoreksia, batuk, diabetes, hepatitis, rematik dan sinusitis
Kurkumin terdapat pada berbagai genus Curcuma dalam jumlah yang relatif kecil yaitu pada tanaman kunyit sekitar 3-4% yang terdiri dari kurkumin I 94%, kurkumin II 6% dan kurkumin III 0,3%. Kurkumin merupakan senyawa metabolit sekunder, dan secara kimia termasuk golongan fenolik. Kurkumin diisolasi oleh Vogel dan Pellettier pada tahun 1818 tapi ditemukan dalam bentuk kristal oleh Daube pada tahun 1870. Sintesis kurkumin pertama kali dilakukan oleh Milobedzka pada tahun 1910. Kurkumin memiliki rumus molekul C21H20O6 dengan berat molekul 368,37. Kurkumin tidak larut dalam air namun larut dalam kloroform, diklorometan, metanol, etanol, etil asetat, dimetilsulfoksida dan aseton.
Kurkumin di alam terdapat bersama-sama dengan dua senyawa lain yaitu demetoksi kurkumin dan bis-demetoksi kurkumin, yang dikenal dengan nama kurkuminoid. Berdasarkan hasil penelitian senyawa kurkumin yang diisolasi tersebut memiliki berbagai aktivitas biologis seperti antibakteri, antiprotozoa, antivirus, antikoagulan, antioksidan, antitumor dan antikarsinogenik. Sedangkan untuk senyawa demetoksi kurkumin dan bis-demetoksi kurkumin memiliki aktivitas antioksidan.
3.2    Waktu Retensi (Rf)
Waktu retensi adalah ukuran waktu mulai injeksi cuplikan hingga suatu komponen campuran keluar kolom,dengan kata lain waktu yang diperlukan oleh suatu komponen campuran (solut) untuk keluar dari kolom. Waktu retensi diukur melalui kromatogram dari menit ke-0 hingga muncul puncak peak (Hendayana, 2006).
Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk memastikan spot yang terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun ukuran jarak plat nya berbeda. Nilai perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan sebagai nilai perbandingan relatif antar sampel. Nilai Rf juga menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf sering juga disebut faktor retensi. Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut:
Rf = Jarak yang ditempuh substansi / Jarak yang ditempuh oleh pelarut

Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis. Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa. Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama sedangkan, bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan senyawa yang berbeda.





             6.      PEMBAHASAN
Kurkumin adalah senyawa yang terdapat pada kunyit Kurkumin merupakan salah satu senyawa yang diisolasi dari tanaman Curcuma sp dan pemberi warna kuning pada tanaman kunyit Curcuma longa L. Kurkumin banyak digunakan sebagai rempah-rempah dan pemberi warna pada makanan dan juga pemberi warna pada tekstil. Secara tradisional kurkumin juga digunakan dalam pengobatan berbagai penyakit seperti anoreksia, batuk, diabetes, hepatitis, rematik dan sinusitis. Hal ini berkaitan dengan pernyataan Cahyono, (2010) ia menyatakan bahwa pada kunyit terdapat zat warna kuning alami yang diperbolehkan untuk pewarna makanan, dan  telah cukup lama dikenal sebagai obat batuk, obat gangguan hati, rematik, dan sinusitis.
Larutan hasil ekstraksi kunyit ditotolkan 1 cm dari bawah dan minimum 2 cm dari sisi pelat, sedemikian rupa sehingga terjadi noda teratur yang maksimum berdiameter 6 mm. Penotol yang digunakan sebaiknya berdiameter 0,1 mm – 1 mm, sehingga larutan zat uji yang digunakan juga sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada percobaan ini penotol yang digunakan adalah pipa kapiler.
Tehnik pemisahan kromatografi lapis tipis, dapat dilakukan dengan menotolkan 3 titik pada pelat KLT. Hal ini dilakukan agar pengulangan terjadi pada satu plat yang sama dan hanya dipisahkan oleh jarak penotolannya. Hasil dari KLT tersebut menunjukkan terpisahmya noda dari komponen campuran. Bercak warna yang dihasilkan hanya satu yaitu bercak warna kuning yang menandakan bahwa pada sampel terdapat kurkumin
Setelah daerah noda yang terpisah telah dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari senyawa. Metoda identifikasi yang paling mudah adalah berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap permukaan pelarut, menggunakan harga Rf atau disebut juga waktu retensi. Harga Rf merupakan parameter karakteristik kromatografi lapis tipis. Harga ini merupakan ukuran kecepatan migrasi suatu senyawa pada kromatogram dan pada kondisi konstan merupakan besaran karakteristik dan reprodusibel. Hasil dari pengukuran jarak yang ditempuh noda adalah 3.1 cm, 3 cm, dan 3.1 cm. Jarak tempuh pelarut adalah 3.3 cm dengan demikian didapatkan hasil perhitungan waktu retensi rata-rata adalah 0.929.
           

7.        PENUTUP
7.1    Kesimpulan
     Berdasarkan praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
       1. Waktu yang diperoleh yaitu Rf 1, = 0,97, Rf 2= 0,97, dan Rf 3= 0,97 dan diperoleh Rf total = 0,97
     2.    Plat yang digunakan ialah kertas kromatografi lapis tipis yang di lapisi absorben yang berupa silica gel berwarna putih.
    3.   Keakuratan pemisahan dengan metode KLT tergantung pada pemilihan adsorben sebagai fasa diam, kepolaran pelarut, ukuran kolom terhadap jumlah material, dan laju fase gerak.
    4.  Suatu senyawa dikatakan murni jika noda yang ditotolkan terjerap, dengan bentuk yang konstan atau tidak meninggalkan noktah pada jalan yang dilaluinya pada pelat.
  5. Pelarut yang digunakan yaitu dengan perbandingan CHCl3 : Etanol = 0,7 : 0,3 yang akan menunjukkan komponen utama.
 7.2    Saran
1)      Sebaiknya pada praktikum selanjutnya, kegiatan praktikum, harus diperiksa alat dan bahan praktikum sehingga praktikum dapat berjalan dengan lancar.
2)      Kebersihan ruangan juga harus dijaga sehingga kegiatan praktikum dapat berjalan dengan baik.
3)      Praktikan  harus menggunakan alat keselamatan seperti masker dan sarung tangan saat melakukan praktikum.
4)      Volume larutan yang ditambahkan harus sesuai dengan prosedur agar proses destilasi dapat berhasil.
5)      Kurangnya ketelitian praktikan pada saat melakukan percobaan disebabkan waktunya yang lama.
8.      DAFTAR PUSTAKA
A. Herry Cahyana,Suhanah,2004,Studi Skrining Kimiawi Fraksi Non-Polar Rimpang Kunyit Curcuma Long A Dan Aktivitas Biologi Sebagai Radical Scavenger, depok,vol.2,No.1.
Afifah, E., (2003), Khasiat dan Manfaat Temulawak: Rimpang Penyembuh Aneka Penyakit, Jakarta: Agro Media Pustaka.
Barokati Azizah,Nina Salamah, 2013,Standarisasi Parameter Non Spesifik Dan Perbandingan Kadar Kurkumin Ekstrak Etanol DanEkstrak Terpurifikasi Rimpang Kunyit, Yogyakarta, Vol 3 no 1.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rahman. 2008. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Hendayana, S., (2010), Kimia Pemisahan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Khopkar, S. M., (2008), Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press.
Puspasari, (2010),  Kamus Lengkap Kimia. Jakarta: Dwi Media Press.
Sudarmadji, S., dkk, 2007. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Penerbit Liberty: Yogyakarta.
Yazid, Estien, 2005, Kimia Fisika untuk paramedis. Yogyakarta: Andi Offset.



Selasa, 26 September 2017

PERCOBAAN I
JUDUL PRAKTIKUM           :  EKSTRAKSI MENGGUNAKAN CORONG PISAH
TANGGAL PERCOBAAN    :  24 Oktober 2016
1.        LATAR BELAKANG
1.1     Definisi Ekstraksi
Menurut Sri Yulianti dan Suyanti Satuhu (2012: 46), ekstraksi adalah proses penarikan komponen aktif (minyak asiri) yang terkandung dalam tanaman menggunakan bahan pelarut yang sesuai dengan kelarutan komponen aktifnya.
Menurut Arsyad (2001: 51), ekstraksi merupakan proses pemisahan suatu komponen dari suatu campuran berdasarkan proses distribusi terhadap dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Ekstraksi pelarut umumnya digunakan untuk memisahkan sejmlah gugus yang diinginkan dan mungkin merupakan gugs pengganggu dalam analisis secara keseluruhan. Kadang-kadang gugus-gugus pengganggu ini diekstraksi secara selektif.
Menurut Sudjadi (1986: 37), ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fase pelarut yang tidak dapat saling bercampur dimana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagiannya lagi larut pada fase kedua. Kedua fase yang mengandung zat terdispersi dikocok, lalu didiamkan sampai terjasi pemisahan sempurna dan terbentuk dua lapisan fasa zat cair. Komponen kimia akan terpisah ke dalam kedua fasa tersebut sesuai dengan tingkat kepolarannya dengan perbandingan konsentrasi yang tetap.
Jadi dapat di simpulkan bahwa ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Bahan kimia akan terpisah sesuai dengan kepolarannya.

1.2     Mengapa Perlu Dilakukan Ekstraksi?
Ektraksi perlu di lakukan, karena untuk mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran yang disebut sebagai pemurnian. Dalam percobaan ini untuk memisahkan dan mendapatkan kafein dari teh. Kemudian untuk mengetahui keberadaan zat dalam suatu sampel terdapat beberapa cara, salah satunya ialah dengan ektraksi. Ekstraksi juga dilakukan karena beberapa faktor seperti jika destilasi tidak dapat dilakukan atau terlalu mahal, kemudian jika diinginkan mengisolasi bahan untuk karakterisasi, atau memurnikan senyawa untuk proses selanjutnya.

1.3     Penelitian Terdahulu Tentang Ekstraksi
Penelitian tentang ekstraksi pernah di lakukan oleh Khusnul Khotimah (2014: 40-48), dalam jurnal berjudul “Karakteristik Kimia Kopi Kawa dari Berbagai Umur Helai Daun Kopi Yang Diproses Dengan Metode Berbeda”. Pada penelitian yang di lakukan oleh khusnul ini Kadar kafein dianalisis dengan metode Baily Andrew (Jacobs, 1962). Sampel (kopi kawa) sebanyak 5 g (digiling dan disaring dengan saringan 30 mesh), ditambah 5 g MgO dan 200 mL aquades dipanaskan sampai mendidih selama 2 jam dalam pendingin balik, kemudian didinginkan dan ditambahkan aquades hingga mencapai 500 mL lalu disaring. Sebanyak 300 mL fltrat dimasukan dalam corong pisah dan digojlog 6x dengan kloroform (25, 20, 15, 10, 10 dan 10 mL). Cairan bilasan dimasukan dalam corong pemisah. Fase bagian bawah (hidrofilik, mengandung kafein) diambil dan dimasukan dalam corong pemisah. Fase bagian bawah ini kemudian dicuci lagi sebanyak 2 kali masing-masing dengan 10 mL kloroform. Fase hidro-filik larutan ini kemudian diuapkan dengan penangas air sampai tinggal residunya, selanjutnya dikeringkan dalam oven 100°C sampai didapatkan berat konstan dan didapatkan kafein kasar. Semakin tinggi kadar kafein yang dipengaruhi oleh berat bubuk dan lama penyeduhan dapat disebabkan oleh semakin banyak bubuk teh yang digunakan.
Penelitian lainnya tentang kafein di lakukan oleh Dianita Devi Putri dan Ita Ulfin (2015: 105-108), dalam jurnalnya “Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi terhadap Kadar Kafein dalam Teh Hitam”. Penelitian yang di lakukan oleh Dianita ini membuktikan bahwa kadar kafein didalam teh hitam di pengaruhi oleh kondisi ekstraksi di antaranya yaitu suhu dan waktu ekstraksi. Hasil yang di peroleh Semakin panjang waktu ekstraksi dapat membuat kadar kafein di dalam teh semakin tinggi yaitu 19,305 mg/g saat waktu ekstraksi 4 jam di suhu 27°C; 29,403 mg/g saat waktu ekstraksi 3,5 menit di suhu 70°C dan 31,280 mg/g saat waktu ekstraksi 4 menit di suhu 100°C.
Selanjutnya penelitian lain juga di lakukan oleh Tamzil Azis, dkk. (2009: 1-8), dalam jurnal “Pengaruh Pelarut Heksana Dan Etanol, Volume Pelarut, Dan Waktu Ekstraksi Terhadap Hasil Ekstraksi Minyak Kopi”, yang bertujuan untuk mengetahui kondisi optimun yang dapat digunakan dalam proses ekstraksi minyak biji kopi dengan menggunakan pelarut heksana atau organik, untuk mengetahui pengaruh jumlah pelarut terhadap jumlah minyak kopi yang dihasilkan. Serta untuk mengetahui pengaruh waktu ekstraksi terhadap jumlah minyak kopi yang dihasilkan. Hasil ekstraksi dengan pelarut heksana akan memberikan hasil yang bagus. Hal ini dikarenakan pelarut heksana lebih reaktif sebagai pelarut sehingga dapat mengesktrak lebih banyak minyak kopi yang terdapat pada bubuk kopi, dapat dilihat bahwa ekstraksi dengan pelarut heksana akan memberikan hasil yang optimal.

2.        TUJUAN
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah:
·           Untuk memisahkan kandungan kafein menggunakan pelarut kloroform.
·           Untuk memisahkan kandungan kafein menggunakan pelarut benzena.
·           Untuk memisahkan kandungan kafein menggunakan pelarut dietil eter.


3.        TINJAUAN PUSTAKA
3.1.   Ekstraksi
Secara sederhana ekstraksi dapat didefinisikan sebagai proses pemindahan satu atau lebih komponen dari satu fase ke fase lainnya. Metode ekstraksi dikembangkan berdasarkan perpindahan menuju kesetimbangan, sehingga kinetika perpindahan massa tidak dapat diabaikan. Menurut Tamzil Azis, dkk. (2009: 3), dalam jurnalnya menyatakan metode ini memanfaatkan perbedaan kelarutan antara minyak dan bahan-bahan lain di dalam biji kopi terhadap pelarut. Sifat selektivitas pelarut yang digunakan menentukan tingkat kemurnian minyak kopi yang diperoleh. Oleh karena itu, pemilihan jenis pelarut memegang peranan yang sangat penting.  
Ekstraksi cair-cair (corong pisah) merupakan pemisahan komponen kimia diantara dua fase pelarut yang tidak dapat saling bercampur dimana sebagian komponen larut pada fase pertama dan sebagiannya lagi larut pada fase kedua (Sudjadi, 1986: 37). Ekstraksi dilakukan karena beberapa faktor seperti jika destilasi tidak dapat dilakukan atau terlalu mahal, kemudian jika diinginkan mengisolasi bahan untuk karakterisasi, atau memurnikan senyawa untuk proses selanjutnya. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ektraksi, diantaranya suhu, ukuran partikel, faktor solven.
Ekstraksi pelarut atau ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan populer. Alasan utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, seperti benzena, karbon titraklorida atau kloroform. (Khopkar, 1990: 76).
Cara kerja ekstraksi dengan pelarut menguap cukup sederhana yaitu dengan cara memasukkan bahan yang diekstraksi ke dalam ekstraktor khusus. Ekstraksi berlangsung secara sistematik pada suhu tertentu dengan menggunakan pelarut. Pelarut akan berpenetrasi ke dalam bahan. Minyak hasil ekstraksi dengan pelarut mempunyai keunggulan yaitu mempunyai bau yang mirip bau alamiah. (Aziz, 2009: 2)

3.2.   Teh
Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dikonsumsi di dunia yang dibuat dari tanaman Camellia sinensis. Teh memiliki manfaat diantaranya dalam pencegahan dan pengobatan penyakit karena bersifat antibakteri dan antioksidan. Selain manfaat teh, terdapat pula za dalam teh yang berakibat kurang baik untuk tubuh. Zat tersebut adalah kafein. Meskipun kafein aman dikonsumsi, zat tersebut dapat menimbulkan reaksi yang tidak dikehendaki jika dikonsumsi secara berlebihan seperti insomnia, gelisah, delirium, takikardia, ekstrasistole, pernapasan meningkat, tremor otot dan diuresis. Semakin lama teh direndam maka kafein dalam teh akan semakin terekstrak dan terjadi oksidasi. Untuk mendapatkan teh yang lebih pekat dilakukan dengan menambahkan daun teh, bukan dengan memperpanjang waktu penyeduhan. Ketika proses penyeduhan teh maka terjadi proses ekstraksi yaitu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang larut dengan pelarut cair.
Berdasarkan kebiasaan masyarakat di Indonesia yang menyeduh teh dengan air panas yang berasal dari pemanas dispenser dengan suhu 70°C ataupun air yang mendidih dengan suhu 100°C maka digunakan variabel suhu ekstraksi dengan pelarut air pada suhu 70°C dan 100°C. Waktu ekstraksi yang digunakan pada suhu 70°C dan 100°C yaitu antara 0,5 menit – 4 menit karena dalam keseharian masyarakat, mereka tidak membutuhkan waktu yang lama saat menyeduh teh dalam air panas. Selain menyeduh dengan air panas, terkadang masyarakat juga merendam teh pada suhu ruang 27°C. Penyeduhan teh yang dilakukan tanpa pemanasan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan
penyeduhan teh dengan pemanasan maka digunakan waktu ekstraksi pada suhu 27°C yaitu 0,5 jam – 16 jam (Dianita, 2015: 105).

3.3.   Kafein
Kafein merupakan suatu senyawa berbentuk kristal. Penyusun utamanya adalah senyawa turunan protein disebut dengan purin xantin. Senyawa ini pada kondisi tubuh yang normal memang memiliki beberapa khasiat antara lain merupakan obat analgetik yang mampu menurunkan rasa sakit dan mengurangi demam. Dalam teh terkandung kafein, untuk memisahkan kafein dalam teh maka diperlukan ektraksi (Arwangga, 2016: 110).
Kafein memiliki efek farmakologis yang bermanfaat secara klinis, seperti menstimulasi susunan syaraf pusat, relaksasi otot polos terutama otot polos bronkus dan stimulasi otot jantung. Berdasarkan efek farmakologis tersebut, kafein ditambahkan dalam jumlah tertentu ke minuman. Efek berlebihan (over dosis) mengkonsumsi kafein dapat menyebabkan gugup, gelisah, tremor, insomnia, hipertensi, mual dan kejang. Berdasarkan FDA (Food Drug Administration) dosis kafein yang diizinkan 100-200mg/hari, sedangkan menurut SNI 01-7152-2006 batas maksimum kafein dalam makanan dan minuman adalah 150 mg/hari dan 50 mg/sajian. Kafein sebagai stimulan tingkat sedang (mild stimulant) memang seringkali diduga sebagai penyebab kecanduan. Kafein hanya dapatmenimbulkan kecanduan jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan rutin. Namun kecanduan kafein berbeda dengan kecanduan obat psikotropika, karena gejalanya akan hilang hanya dalam satu dua hari setelah konsumsi (Rialita, dkk., 2013: 123).

            Kafein memiliki rumus molekul: C8H10N4O2, struktur dari kafein (Mumin, 2006: 48) :



alat dan bahan

bahan dan pembahasan

1.        DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, M. N. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta: Gramedia.
Arwangga, A, F., dkk. 2016. Analisis Kandungan Kafein Pada Kopi Di Desa Sesaot Narmada Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis, Jurnal Kimia, Vol. 10, No. 1, hal 110-114.
Aziz, Tamzil, dkk. 2009. Pengaruh Pelarut Heksana Dan Etanol, Volume Pelarut, Dan Waktu Ekstraksi Terhadap Hasil Ekstraksi Minyak Kopi, Jurnal Teknik Kimia, Vol. 16, No. 1, hal. 1-8.
Guenther, E. 1987. Minyak Atsiri jilid I (Terjemahan). Jakarta : UI Press.
Khopkar, S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Khotimah, Khusnul. 2014. Karakteristik Kimia Kopi Kawa Dari Berbagai Umur Helai Daun Kopi Yang Diproses Dengan Metode Berbeda, Jurnal Teknologi Penelitian, Vol. 9, No. 1, hal. 40-48.
Maramis, R, K., dkk. 2013. Analisis Kafein Dalam Kopi Bubuk Di Kota Manado Menggunakan Spektrofotometri Uv-Vis. Jurnal Ilmiah Farmasi-UNSRAT , Vol. 2, No. 04, hal. 122-128.
Putri, D, D., dan Ita Ulfin. 2015. Pengaruh Suhu dan Waktu Ekstraksi terhadap Kadar Kafein dalam Teh Hitam, Jurnal Sains dan Seni Its, Vol. 4, No. 2, hal. 105-108.
Sudjadi. 1986. Metode Pemisahan. Yogyakarta: Kanisius.
Yuliani, Sri dan Suyanti Satuhu. 2012. Panduan Lengkap Minyak Aksiri. Jakarta: Penebar Swadaya.




Laporan dikirim oleh Dedi Mastur, mahasiswa semester 7. PKM UIN Arraniry.